Saturday, March 23, 2019

Essay - Bahasa Krama di Era Milenial


Bahasa Krama di Era Milenial
Kita hidup di zaman milenial. Zaman di mana semua serba modern. Salah satunya adalah penggunaan bahasa untuk bercakap-cakap setiap harinya. Seiring dengan perkembangan zaman, bahasa-bahasa yang muncul sangatlah beragam. Sehingga bahasa-bahasa lokal pun perlahan mulai tergusur oleh bahasa-bahasa gaul yang saat ini sedang digandrungi oleh kalangan remaja di zaman milenial. Salah satunya adalah bahasa krama.
Nampaknya bahasa krama perlahan mulai asing digunakan oleh remaja milenial yang hidup di Pulau Jawa. Hanya beberapa saja yang masih menggunakan bahasa krama. Itu pun digunakan oleh mereka yang tinggal di pedesaan yang masih kental dengan budaya-budaya Jawa. Selain itu, bayak dari mereka yang memilih menggunakan Bahasa Indonesia untuk bercakap-cakap, karena tidak semua orang Jawa bisa berbahasa krama dengan baik dan benar. Sehingga mereka memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk menghindari kesalahan penggunaan bahasa krama.
Bahasa krama yang dulu dinilai bahasa yang sopan digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan kini menjadi bahasa yang mulai asing digunakan. Para siswa di sekolah-sekolah di Pulau Jawa pun tidak banyak yang menggunakan bahasa ini untuk sekadar berbincang kepada guru. Mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan beberapa program untuk menggunakan bahasa krama di hari-hari tertentu nampaknya tidak ada perkembangan, bahkan ada yang sama sekali tidak berjalan.
Pada kenyataanya, bahasa krama juga harus dikembangkan lagi ditengah eksistansi bahasa gaul yang sedang merajalela di zaman milenial ini. Mengapa harus dikembangkan? Bahasa krama adalah bahasa lokal khas Jawa yang harus terus dikembangkan sampai kapan pun. Walaupun banyak yang kesulitan dalam memahaminya, mau tidak mau para generasi era milenial harus tetap mempelajari bahkan jika bisa mereka harus menggunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari kepada orang yang yang lebih tua atau dituakan.
Keberadaan bahasa krama di era milenial ini seolah menjadi hal baru bagi generasinya yang sama sekali belum pernah diajari oleh kedua orang tuanya. Kebanyakan dari mereka enggan untuk mempelajarinya karena bahasa krama ini dianggap susah. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, mereka seolah buta berbahasa krama karena memnag dari kecil tidak dibiasakan menggunakan bahasa ini. Namun hal serupa juga kita jumpai di daerah pedesaan. Tidak semua orang yang tinggal di desa mampu untuk berbahasa krama. Sebagian dari mereka mengalami hal yang sama, yaitu merasa susah dalam mempelajari dan mengaplikasikan bahasa krama dalam kehidupan sehari-harinya.
           

No comments:

Post a Comment