Bahasa Krama di Era Milenial
Kita
hidup di zaman milenial. Zaman di mana semua serba modern. Salah satunya adalah
penggunaan bahasa untuk bercakap-cakap setiap harinya. Seiring dengan
perkembangan zaman, bahasa-bahasa yang muncul sangatlah beragam. Sehingga
bahasa-bahasa lokal pun perlahan mulai tergusur oleh bahasa-bahasa gaul yang
saat ini sedang digandrungi oleh kalangan remaja di zaman milenial. Salah
satunya adalah bahasa krama.
Nampaknya
bahasa krama perlahan mulai asing digunakan oleh remaja milenial yang hidup di
Pulau Jawa. Hanya beberapa saja yang masih menggunakan bahasa krama. Itu pun
digunakan oleh mereka yang tinggal di pedesaan yang masih kental dengan budaya-budaya
Jawa. Selain itu, bayak dari mereka yang memilih menggunakan Bahasa Indonesia
untuk bercakap-cakap, karena tidak semua orang Jawa bisa berbahasa krama dengan
baik dan benar. Sehingga mereka memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk
menghindari kesalahan penggunaan bahasa krama.
Bahasa
krama yang dulu dinilai bahasa yang sopan digunakan kepada orang yang lebih tua
atau yang dituakan kini menjadi bahasa yang mulai asing digunakan. Para siswa
di sekolah-sekolah di Pulau Jawa pun tidak banyak yang menggunakan bahasa ini
untuk sekadar berbincang kepada guru. Mereka lebih nyaman menggunakan bahasa
Indonesia. Bahkan beberapa program untuk menggunakan bahasa krama di hari-hari
tertentu nampaknya tidak ada perkembangan, bahkan ada yang sama sekali tidak berjalan.
Pada
kenyataanya, bahasa krama juga harus dikembangkan lagi ditengah eksistansi
bahasa gaul yang sedang merajalela di zaman milenial ini. Mengapa harus
dikembangkan? Bahasa krama adalah bahasa lokal khas Jawa yang harus terus
dikembangkan sampai kapan pun. Walaupun banyak yang kesulitan dalam
memahaminya, mau tidak mau para generasi era milenial harus tetap mempelajari
bahkan jika bisa mereka harus menggunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari
kepada orang yang yang lebih tua atau dituakan.
Keberadaan
bahasa krama di era milenial ini seolah menjadi hal baru bagi generasinya yang
sama sekali belum pernah diajari oleh kedua orang tuanya. Kebanyakan dari
mereka enggan untuk mempelajarinya karena bahasa krama ini dianggap susah.
Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, mereka seolah buta
berbahasa krama karena memnag dari kecil tidak dibiasakan menggunakan bahasa
ini. Namun hal serupa juga kita jumpai di daerah pedesaan. Tidak semua orang
yang tinggal di desa mampu untuk berbahasa krama. Sebagian dari mereka
mengalami hal yang sama, yaitu merasa susah dalam mempelajari dan
mengaplikasikan bahasa krama dalam kehidupan sehari-harinya.
No comments:
Post a Comment