Inspired from: The Grufallo
A mouse took a stroll through the deep dark wood. A fox saw the mouse, and the mouse looked good.
“Where are you going to, little brown mouse? Come and have lunch in my underground house.”
“It’s terribely wind of you, Fox, but no… I’m going tohave lunch with a Gruffalo.”
“A Gruffalo? Who’s a Gruffalo?”
“A Gruffalo! Why, didn’t you know?”
“He has terrible tusks, and terrible claws, and terrible teeth in his terrible jaws.”
“where are you meeting him?”
“Here, by these rocks, and his favourite food is roasted fox.”
“Roasted fox! I’m off!” Fox said.
“Goodbye little mouse,” and away he sped.
“Silly old fox! Doesn’t he know, there’s no such as a Gruffalo?”
On went the mouse through the deep dark wood. An owl saw the mouse and the mouse looked good.
“Where are you going to, little brown mouse? Come and have tea in my treetop house.”
“ It’s frightfully nice of you, owl, but no… I am going to have tea with a Gruffalo.”
“A Gruffalo? What’s a Gruffalo?”
“A Gruffalo! Why, didn’n you know?”
“He has knobbly knees, and turned-out toes, and a poisonous wart at the end of his nose.”
“Where are you meeting him?”
“Here, by this steam, and his favourite food is owl ice cream.”
“Owl ice cream? Towhit toowhoo! Goodbye, little mouse.” And away Owl flew.
“Silly old Owl! Doesn’t he know, there’s no such thing as a Gruffalo!”
On went the mouse through the deep dark wood. A snake saw the mouse and the mouse looked good.
“Wher are you going to little brown mouse? Come for my birthday in my trunk.”
“It’s a good invitation of you, snake. Happy birthday for you, by the way. But no – I’m invited to Gruffalo’s birthday.”
“A Gruffalo? What’s a Gruffalo?”
“A Gruffalo! Why didn’t you know?”
“He has a red eyes, his tounge is black, his skin is purple.”
“How do you know him?”
“I met him at the lake when he ate a sushi snake then he asked me to join with him.”
“Sushi snake?! Oh okay, see you next time, mouse.”
“Silly old Snake! Doesn’t he know, there’s no such a thing as a Gruffalo?”
Then the little mouse stroll away to a dark wood. But who is this creature with terrible claws and terrible teeth in his terrible jaws? He has knobbly knees and turned out toes and a poisonous wart at the end of his nose. His eyes are red, his tounge is black, his skin is purple. Oh, help! Oh, no!! It’s a Gruffalo!
“My stomach is growling!”
“Hello, who are you?”
“I am Gruffalo, you look so tasty.”
“If you want to eat many tasty foods just follow me.”
“Why I should follow you?”
“Because I’m the powerful creature in tis wood.”
“Oh really? Okay, I’ll follow you.”
They go to the snake’s trunk and find Fox, Owl and Snake. Every creatures in the party feel goose bumps.
“Oh are you gruffalo?” said all creatures sacred.
“Yes, you know me? Oh, I am so fabulous!”
“The mouse introduced you to us” said owl.
From that gruffalo feels happy and exited to join the party, and he forget to eat mouse. Sometime, it’s good for us to tell fake story if it can save our life.
Salma's Journal
Hello, there♥ Let's explore my blog!
Wednesday, April 10, 2019
Tuesday, March 26, 2019
My Favorite Idol : Iqbaal Ramadhan
![]() |
| Iqbaal walked around New Mexico at Saturday Night |
Hello, guys! Here I would like to describe my favorite idol.
His full name is Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, maybe you know him as Iqbaal Coboy
Junior. He was born on Surabaya 28th December
1999, so now he is 19th years old. He has straight hair and round eyes, an oval face, and a pointed nose. He also handsome, smart, and very talented. He is good at singing, playing guitar and taekwondo.
He began his career in 2011 by joining the vocal group Coboy Junior. It was this vocal group that raised the name Iqbaal Ramadhan, where Coboy Junior songs were sung with Kiki, Aldi, and Bastian on the market success. Unfortunately Coboy Junior's was slightly reduced by the release of Bastian on 2014. Coboy Junior changed his name to CJR. But a few years later this group was dissolved because Iqbaal had to continue his education in the United States. Even though he had left Indonesia, a number of film offers arrived at him. Various films he has played include Lima Elang, Coboy Junior The Movie, Dilan 1990, Bumi Manusia, and Dilan 1991. In terms of education, he is known as a smart figure. He just finished his education at United World Colleges (UWC), New Mexico, United States (US). UWC is an educational institution equivalent to high school where students come from various countries. Now he is still in the process of choosing a university, but he intends to study Communication and Marketing.
The reason why I really idolized him because he is a person who can be a role model for everyone. He is good at everything, but he remains humble. He motivated me to always work hard and be passionate about achieving goals. He is really amazing.
He began his career in 2011 by joining the vocal group Coboy Junior. It was this vocal group that raised the name Iqbaal Ramadhan, where Coboy Junior songs were sung with Kiki, Aldi, and Bastian on the market success. Unfortunately Coboy Junior's was slightly reduced by the release of Bastian on 2014. Coboy Junior changed his name to CJR. But a few years later this group was dissolved because Iqbaal had to continue his education in the United States. Even though he had left Indonesia, a number of film offers arrived at him. Various films he has played include Lima Elang, Coboy Junior The Movie, Dilan 1990, Bumi Manusia, and Dilan 1991. In terms of education, he is known as a smart figure. He just finished his education at United World Colleges (UWC), New Mexico, United States (US). UWC is an educational institution equivalent to high school where students come from various countries. Now he is still in the process of choosing a university, but he intends to study Communication and Marketing.
The reason why I really idolized him because he is a person who can be a role model for everyone. He is good at everything, but he remains humble. He motivated me to always work hard and be passionate about achieving goals. He is really amazing.
Saturday, March 23, 2019
Essay - Bahasa Krama di Era Milenial
Bahasa Krama di Era Milenial
Kita
hidup di zaman milenial. Zaman di mana semua serba modern. Salah satunya adalah
penggunaan bahasa untuk bercakap-cakap setiap harinya. Seiring dengan
perkembangan zaman, bahasa-bahasa yang muncul sangatlah beragam. Sehingga
bahasa-bahasa lokal pun perlahan mulai tergusur oleh bahasa-bahasa gaul yang
saat ini sedang digandrungi oleh kalangan remaja di zaman milenial. Salah
satunya adalah bahasa krama.
Nampaknya
bahasa krama perlahan mulai asing digunakan oleh remaja milenial yang hidup di
Pulau Jawa. Hanya beberapa saja yang masih menggunakan bahasa krama. Itu pun
digunakan oleh mereka yang tinggal di pedesaan yang masih kental dengan budaya-budaya
Jawa. Selain itu, bayak dari mereka yang memilih menggunakan Bahasa Indonesia
untuk bercakap-cakap, karena tidak semua orang Jawa bisa berbahasa krama dengan
baik dan benar. Sehingga mereka memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk
menghindari kesalahan penggunaan bahasa krama.
Bahasa
krama yang dulu dinilai bahasa yang sopan digunakan kepada orang yang lebih tua
atau yang dituakan kini menjadi bahasa yang mulai asing digunakan. Para siswa
di sekolah-sekolah di Pulau Jawa pun tidak banyak yang menggunakan bahasa ini
untuk sekadar berbincang kepada guru. Mereka lebih nyaman menggunakan bahasa
Indonesia. Bahkan beberapa program untuk menggunakan bahasa krama di hari-hari
tertentu nampaknya tidak ada perkembangan, bahkan ada yang sama sekali tidak berjalan.
Pada
kenyataanya, bahasa krama juga harus dikembangkan lagi ditengah eksistansi
bahasa gaul yang sedang merajalela di zaman milenial ini. Mengapa harus
dikembangkan? Bahasa krama adalah bahasa lokal khas Jawa yang harus terus
dikembangkan sampai kapan pun. Walaupun banyak yang kesulitan dalam
memahaminya, mau tidak mau para generasi era milenial harus tetap mempelajari
bahkan jika bisa mereka harus menggunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari
kepada orang yang yang lebih tua atau dituakan.
Keberadaan
bahasa krama di era milenial ini seolah menjadi hal baru bagi generasinya yang
sama sekali belum pernah diajari oleh kedua orang tuanya. Kebanyakan dari
mereka enggan untuk mempelajarinya karena bahasa krama ini dianggap susah.
Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, mereka seolah buta
berbahasa krama karena memnag dari kecil tidak dibiasakan menggunakan bahasa
ini. Namun hal serupa juga kita jumpai di daerah pedesaan. Tidak semua orang
yang tinggal di desa mampu untuk berbahasa krama. Sebagian dari mereka
mengalami hal yang sama, yaitu merasa susah dalam mempelajari dan
mengaplikasikan bahasa krama dalam kehidupan sehari-harinya.
Resensi Film Java Heat
1. Data/Identitas
Film
Judul
: Java Heat
Jenis
Film : Action
Produser : Connor Allyn, Rob Allyn,
Seth Baron
Sutradara : Connor Allyn
Penyunting : Harvey
Rosenstock
Durasi
Film : 98 Menit
Perusahaan
Film : Margate House
Diputar :
Mulai 18 April 2013
2.
Pemeran Film
Java Heat
Jake Travers (Kellan Lutz)
Tapi Hashim (Ario Bayu)
Sultana (Atiqah Hasiholan)
Malik (Mickey Rourke)
Visier (Tio Pakusadewo)
Sultan Jogja (Rudi Wowor)
Jendral Sriyono (Frans Tumbuan)
Ahmed (Mike Muliadro)
Anton (Rio Dewanto)
Ling (Verdi Solaiman)
Rani (Uli Auliani)
Nita (Rahayu Saraswati)
Jim Bretton (Nick McKinless)
Vitria (Astri Nurdin)
Andi (Agung Udijana)
Kapten Agus (Teuku Rifnu Wikana)
Faruq (Tegar Satrya)
Baron (Michael Duncan)
Marine MP (Brent Duke)
Ade (Kayla Kamala Garin)
Budi (Asto Tunas Bawono)
3.
Pendahuluan
Java Heat merupakan
salah satu film action garapan Connor
Allyn yang menceritakan soal aksi terorisme di Indonesia dengan menggunakan
latar belakang kota Yogyakarta dan Magelang.
Film yang merupakan hasil kerjasama antara Indonesia dan Amerika ini
mempertemukan dua jenis budaya negara dalam satu cerita dan melibatkan aktor
dan aktris dari kedua negara tersebut. Aktor dan aktris ternama yang ikut serta
membintangi film ini ialah Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Mike Muliadro, Rio
Dewanto, Tio Pakusadewo dan Rudi Wowor. Selain itu, hadir pula dua bintang
Hollywood yakni Kellan Lutz (bintang film Twillight) dan Mickey Rourke (bintang
film Iron Man 2).
Sang Sutradara, Conor
Allyn menyebutkan bahwa film tersebut berhasil digarapnya selama dua bulan dengan menghabiskan dana yang cukup fantastis
hingga mencapai Rp145 miliar dan melibatkan 500 kru film. Dana tersebut jauh
lebih besar dibandingkan dengan film yang ia produksi sebelumnya, Merah Putih
yang hanya menghabiskan dana sebesar Rp60 miliar.
Film ini diawali dengan kejadian pengeboman dalam
sebuah pesta amal di wilayah Kesultanan Yogyakarta yang menewaskan Putri
Kesultanan yang bernama Sultana (Atiqah Hasiholan). Jake Travers (Kellan Lutz)
adalah warga Amerika yang menjadi saksi mata kejadian mendapatkan surat
panggilan dari kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait kejadian
pengeboman tersebut. Keesokan harinya, Jake dan Letnan Hasim (Ario Bimo)
melakukan olah TKP. Mereka menganalisa bahwa tersangka pengeboman tersebut
tidak meledakkan dirinya sendiri, melainkan ada orang lain yang mengontrolnya
dengan remot. Kejanggalan pun mulai tampak terlihat ketika posisi ditemukannya
jasad Sultana tidak sesuai dengan posisi tubuhnya ketika pengeboman
berlangsung. Lantas, Jake dan Letnan Hasim memeriksa sekujur tubuh Sultana dan
mereka semakin yakin jika yang berada di depannya bukanlah jasad Sultana di karenakan
terdapat tato dibagian lengan tangan kanannya.
Di sisi lain, pihak musuh mengetahui aktivitas yang
dilakukan Jake dan Letnan Hasim yang mengakibatkan mobil yang dikendarai mereka
ditabrak hingga terguling. Letnan Hasim terluka parah dan tidak sadarkan diri,
beruntungnya Jake bisa bangkit dan berhasil melumpuhkan musuh. Musuh tersebut
merupakan teroris yang dipimpin oleh Ahmed. Sebagai bentuk ucapan terima kasih,
Letnan Hasim mengajak Jake untuk menginap di rumahnya. Keesoknya harinya,
Letnan Hasim berhasil mengungkap identitas palsu Jake sebagai asisten dosen.
Jake pun akhirnya mengaku bahwa ia adalah seorang anggota marinir Amerika yang
sengaja datang ke Indonesia untuk membalas dendam kepada teroris yang membunuh
adiknya. Komplotan teroris tersebut didanai oleh Malik (Mickey Rourke). Ia
menjanjikan pendanaan kepada Ahmed dengan syarat Ahmed beserta para teroris
yang lainnya harus menuruti semua perintah Malik, salah satunya yaitu mencuri
perhiasan berharga milik kesultanan.
Dengan bantuan rekannya, Jake mendapatkan informasi
bahwa tato yang ada di tubuh palsu Sultana merupakan tato milik wanita
penghibur “elite”. Dengan sigapnya ia
mencari langsung ke tempat hiburan di sekitar wilayah tersebut dan menanyai
satu persatu siapakah wanita pemilik tato tersebut. Akhirnya ia berhasil
menemukan wanita yang memiliki tato serupa. Wanita tersebut menjelaskan bahwa
pemilik tato yang menyerupai miliknya ialah saudara kandungnya sendiri yang
diketahui sudah dibeli oleh seorang bule asal Amerika. Tiba-tiba saja komplotan
teroris pimpinan Ahmed menyerang tempat hiburan tersebut yang mengakibatkan
wanita bertato dan pemilik tempat hiburan itu tewas di tempat. Komplotan
teroris itu sebenarnya ingin mengincar Jake kemudian membunuhnya. Beruntungnya tim
kepolisian berhasil melumpuhkan niat jahat komplotan teroris itu dan membuatnya
kabur. Namun di sisi lain tim kepolisian justru malah mengincar Jake. Usaha
yang dilakukan Jake untuk kabur pada akhirnya gagal sehingga ia berhasil
ditangkap oleh tim kepolisian.
Keesokan paginya, Letnan Hasim kembali kerumah dan
didapatinya rumah yang kosong tanpa seorang pun di dalamnya. Tak lama kemudian
ia mendapatkan panggilan telepon dari
seseorang yang tidak dikenal yang sebenarnya orang tersebut ialah Malik. Dalam
teleponnya orang itu menjelaskan bahwa nasib istri dan anak-anak Letnan Hasim
berada di tangannya. Apabila Letnan Hasim tidak menuruti perintah orang itu
maka tidak segan-segan ia akan membunuh kelurganya. Mendengar ancaman tersebut
Letnan Hasim pun menyetujui perjanjiannya dengan orang asing itu.
Setelah itu, Letnan Hasim menemui Jake di ruang interogasi
tahanan. Ia menjelaskan bahwa keluarganya berada di tangan kelompok teroris dan
itu semua akibat ulahnya yang bekerja sama dengan Jake. Jake pun memberi pengertian
kepada Letnan Hasim agar tidak menuruti perintah orang tersebut dan mencari
cara lain untuk membebaskan keluarganya. Jake bersedia membantu Letnan Hasim
dengan syarat ia harus dibebaskan dari penangkapan tersebut. Di sisi lain,
terjadi perdebatan antara Malik dan Ahmed terkait dengan penculikan istri dan
anak-anak Letnan Hasim. Ahmed terus menentang bahwa penculikan istri dan
anak-anak Letnan Hasim bukanlah hal yang terpenting saat ini karena
sesungguhnya yang harus mereka incar ialah tahta kerajaan beserta hartanya. Di balik
kejadian pengeboman tersebut, ada sosok tokoh kerajaan yang menjadi dalang
utamanya yaitu sepupu sang Sultan (Tio Pakusadewo). Ia sangat berambisi untuk
menduduki tahta kerajaan sehingga ia mau melakukan berbagai cara termasuk
menyingkirkan sang Sultan dan anaknya. Sedangkan Malik ingin mengincar harta
kerajaan dan memperjualbelikan Sultana agar menghasilkan uang. Seperti halnya istri
dan anak-anak Letnan Hasim, Sultana juga menjadi tawanan Malik sejak kejadian
pengeboman tersebut.
Usaha Jake untuk meyakinkan Letnan Hasim akhirnya
tidak sia-sia. Mereka sepakat untuk bekerja sama memburu Malik dan
menyelamatkan istri dan anak-anak Letnan Hasim. Mereka pun mendatangi Sultan
untuk memberikan informasi mengenai Sultana yang masih hidup. Ternyata sang
Sultan pun telah mengetahuinya dan diam-diam memberikan petunjuk kepada mereka
mengenai keberadaan kalung yang menjadi incaran pemburu tersebut. Pada malam
harinya setelah Jake menceritakan detail kejadian terbunuhnya sang Adik,
akhirnya mereka sepakat untuk melakukan penyerangan terhadap komplotan teroris itu.
Dalam penyeranganya, mereka berhasil mengambil alih harta-harta kerajaan yang
awalnya sudah dirampas oleh pihak musuh. Namun, keesokan harinya para teroris
itu membalas dendam dengan menjatuhkan bom di tempat Jake dan Letnan Hasim
bermalam. Beruntungnya mereka berhasil melarikan diri tetapi harta-harta kerajaan
kembali dirampas oleh komplotan teroris itu.
Jake dan Letnan Hasim kembali menyusun rencana untuk
menyelamatkan Sultana dan istri beserta anak-anak Letnan Hasim. Ahmed, pemimpin
teroris itu kembali berdebat dengan Malik. Ia mengatakan bahwa siapapun tidak
boleh membunuh Sultana dan istri beserta anak-anak Letnan Hasim. Ketika Ahmed
berusaha melindungi mereka, tiba-tiba saja Malik menikam punggungnya dengan
pisau yang kemudian dilanjutkan ke bagian dadanya. Setelah membunuh Ahmed,
Malik beserta sepupu sang Sultan langsung meninggalkan tempat kejadian. Tanpa
sengaja ketika Jake dan Letnan Hasim sedang memburu Malik, mereka melihat Ahmed
tergeletak di pinggir jalan. Dengan segera mereka membawanya ke rumah sakit,
namun Ahmed mengatakan bahwa lebih baik ia meninggal saja karena ia sudah
bersalah kepada semua orang dan sudah terlalu mempercayai si bejat, Malik.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Ahmed mengatakan bahwa Sultana dan
istri beserta anak-anak Letnan Hasim dalam keadaan baik-baik saja.
Pertarungan semakin memanas dan puncaknya pada perayaan
hari Waisak di Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia yang merupakan
salah satu keajaiban dunia. Seluruh masyarakat yang menghadiri perayaan
tersebut terkejut ketika melihat Sultana yang ternyata masih hidup. Mereka pun
bersorak-sorak bahagia dan menyambut kedatangan Sultana. Padahal pada situasi
tersebut pertarungan antara Jake dan Letnan Hasim melawan Malik masih
puncak-puncaknya. Malik mengancam akan membunuh Sultana apabila mereka berani
melawannya. Kesabaran Jake sudah berada di ujung tanduk, akhirnya ia pun
melawan Malik. Namun sayangnya ia malah tersungkur akibat terkena tembakan. Melihat
itu, Letnan Hasim langsung menembakkan peluru tepat ke dada Malik. Seketika
Malik tersungkur dan berlumuran darah. Pada saat itu juga Malik meninggal
ditempat. Pada akhirnya, Sultana berhasil kembali menduduki tahta kerajaan.
Sebagai wujud terima kasih ia pun mengantarkan langsung Jake ke bandara untuk
kembali ke negara asalnya.
4. Kelebihan
dan Kekurangan
Kelebihan
:
a. Film
ini turut mempromosikan budaya-budaya Indonesia ke dunia dalam proporsi yang
cukup besar seperti halnya tarian tradisional, ukiran-ukiran, pencak silat,
wayang kulit, aktivitas masyarakat sekitar, hingga keindahan Candi Borobudur.
Hal itu terlihat ketika para penari sedang melayani Malik (Mickey Rourke) dan berbagai aksi Jake
(Kellan Lutz) dan Letnan Hasim (Ario Bayu) melawan terorisme.
b. Adegan-adegan
action yang terdapat dalam film ini sangat
mengesankan. Hal itu terlihat ketika Letnan Hasim (Ario Bayu) dan Jake (Kellan Lutz) bertarung melawan terorisme. Selain
itu, aksi baku tembak dan pengeboman dalam film ini juga cukup mencekam karena
didukung oleh pemilihan efek suara yang selaras.
c. Nilai nasionalisme dalam film ini juga terlihat pada
sosok Letnan Hasim (Ario Bayu) yang mewakili Detasemen 88 sebagai figur yang
tegas dan berwibawa sehingga banyak meninggalkan kesan yang positif. Pasalnya,
detasemen yang konon didirikan untuk menumpas terorisme kerap dinilai sadis dan
berbagai sterotype negatif yang
lainnya.
Kekurangan
:
a. Film
ini terlihat banyak menjelekkan Islam dan menimbulkan pemikiran bahwa Negara
Indonesia ini terdapat banyak teroris. Padahal sebenarnya bom bunuh diri bukan
merupakan jihad yang sesuai diajarkan oleh agama Islam. Selain itu, film ini
juga menggambarkan begitu banyaknya tempat prostitusi di Indonesia. Hal itu
terlihat dari banyaknya adegan Jake dengan perempuan-perempuan seperti pekerja
seks komersial.
b. Kualitas
kamera yang digunakan masih terlihat buram, dengan kata lain kurang jernih
dalam pengambilan detail objeknya. Teknik editing
yang masih banyak kedodoran juga terlihat pada saat adegan Jake di interogasi
di kantor polisi. Bagian properti juga kurang cerdik. Televisi yang digunakan
di dalam kantor polisi untuk merekam CCTV masih berwarna hitam putih dan bertipe
jadul padahal saat itu sudah zaman modern yang seharusnya menggunakan televisi
berwarna.
c. Pada
akhir cerita seharusnya Candi Borobudur ditampilkan dengan segala keagungan dan
kemegahannya. Bukan malah menampilkan suasana gelap dan remang-remang. Padahal
pada saat itu ada perayaan hari Waisak yang seharusnya dibuat lebih berkesan
dengan memainkan lighting.
5. Penutup
Secara keseluruhan film Java Heat sudah
cukup bagus dan menarik terutama dalam hal promosi budaya. Tarian tradisional,
ukiran-ukiran, pencak silat, wayang kulit, aktivitas masyarakat sekitar, hingga
keindahan Candi Borobudur tentu akan menjadi sorotan utama para penonton
khususnya penonton mancanegara. Mereka akan menilai bangsa Indonesia merupakan
bangsa yang multiculture dengan
berbagai ragam kebudayaan beserta keindahannya. Dengan begitu, bangsa Indonesia
akan lebih mudah dikenal oleh seluruh masyarakat dibelahan dunia.
Analysis The Hill-Shade by William Barnes
The
Hill-Shade
By: William Barnes
At
such a time, of year and day,
In ages gone, that steep hill-brow
Cast
down an evening shade, that lay
In shape the same as lies there now;
Though
then no shadows wheel’d around
The
things that now are on the ground.
The
hill’s high shape may long outstand
The house, of slowly-wasting stone;
The
house may longer shade the land
That man’s on-gliding shade is shown;
The
man himself may longer stay
Than
stands the summer’s rick of hay.
The
trees that rise, with boughs o’er boughs,
To me for trees long-fall’n may pass;
And
I could take those red hair’d cows
For those that pull’d my first-known
grass;
Our
flow’rs seem yet on ground and spray,
But
oh, our people; where are they?
1. What does the poem tell about?
Answer : The poem tells of a place where a
lonely old man lived. It used to have a lot of residents but now they've moved
when summer comes. The situation around the place was changed drastically not
like before.
2. What rhyme scheme (abab, aabb, etc.) and sound devices (alliteration and assonance) does the poet use in this poem? Give some
examples of each.
Answer :
-
First Stanza : ABABCC
-
Second Stanza : ABABAA
-
Third Stanza : ABABCC
Sound devices
1.
Alliteration : “boughs
o’er boughs”
2.
Assonance : “day and lay”, “
hill-brow and now” , “pass and grass”
3. What imageries
(visual, auditory, olfactory, gustatory,
tactile, organic, and kinesthetic
imageries) does the poet use
to communicate his feeling and thought? Give some examples of each.
Answer :
Visual : The trees, the house,
slowly-wasting tone, step hill-bow, with
boughs o’er boughs.
Kinesthetic :
Our flow’rs seem yet on ground and spray.
Tactile :
To me for trees long-fall’n may pass.
4. How is the tone of the poem? Is it full of melancholy, sentimentality,
solemnity, or a combination of these? Identify some images that show this poet’s
attitude.
Answer :
The tone of the poem are melancholy and sentimentality.
Melancholy : “Cast
down an evening shade, that lay”
“The man himself may
longer stay”
Sentimentality : “But
oh, our people, where are they?”
5. What is the theme of the poem? Through which images does the poet communicate
this central idea?
Answer :
The theme of the poem is about missing life in the past and situation right
now. The image to communicate the poet is such as view of scenary abou past and
now.
6. What conflict does the author portray in the novella as the part of plot?
Answer :
·
On her way back
from Australia, Dorothy Gale meets her cousin, Zeb Hugson, in San Francisco.
They are swallowed up by an earthquake, along with his horse, Jim, and her cat,
Eureka, and eventually come down in the Land of the Mangaboos. The Wizard of Oz
also arrives there, but the Mangaboos evict them from their country.
·
They take a
subterranean journey through the Valley of Voe, are briefly imprisoned in the
Land of Naught, and encounter a cavern full of Dragonettes. Eventually they
come to a dead-end cavern, so Ozma uses the Magic Belt to bring them to the
Land of Oz.
·
In the Emerald
City, Jim runs a race against the Sawhorse, and when one of the Wizard's Nine
Tiny Piglets goes missing, Eureka is put on trial. Eventually the Wizard is
invited to stay in Oz, but Dorothy, Zeb, and their animals decide to return
home.
7. Who are the characters narrated? What do you think about
them?
Answer :
- Dorothy is the main character of The Wonderful Wizard of Oz. She is an orphan and lives with her aunt and uncle on their farm in Kansas, along with her dog, Toto.
- Toto is Dorothy's dog and her constant
companion. When he runs away right before the hot air balloon is supposed
to take off from Emerald City, Toto costs Dorothy her chance to go home.
- The Wicked Witch of the East is the former ruler of the Munchkins. After Dorothy's house lands on her, the Wicked Witch of the East dies.
- The Good
Witch of the North welcomes
and gives Dorothy the magical silver shoes after she arrives in Munchkin
Country. She is old and not very powerful, but she gives Dorothy a
protective kiss on the forehead before Dorothy heads to the Emerald City.
- The Wicked
Witch of the West is
an evil, conniving witch, and the Wizard of Oz orders Dorothy and her
friends to kill her if they want his help. He makes this request because
he does not believe anyone will actually be able to accomplish the task
due to the Wicked Witch of the West's extreme power.
- Glinda,
the Good Witch of the South, is a benevolent soul, and after Dorothy misses her chance to go back
to Kansas with the Wizard, Dorothy asks Glinda for help. Glinda is very
nice. She helps Dorothy and also frees the Winged Monkeys from their
enchantment.
- The Scarecrow wishes he was smarter. The Wizard gives him bran to put into his head, which he calls 'bran-new brains.
- The Tin
Woodman wants
a heart. To fix this, the Wizard gives the Tin Woodman a stuffed silk
pouch resembling a heart.
- The Cowardly Lion desires courage. In the end of the novel, the Wizard gives him a potion of 'courage.
- The
Wonderful Wizard of Oz rules
the Emerald City until he goes back to the United States. He is originally
from Nebraska. He does not have any real magical powers but uses
technology to manipulate how people see him.
- The
Munchkins are
a race of little people who are very grateful to Dorothy after she kills
their cruel ruler, the Wicked Witch of the East.
- The
Winkies are
also very grateful to Dorothy and her friends after they kill the Wicked
Witch of the West, who was enslaving them.
- The Winged
Monkeys were
put under an enchantment when they played a trick on the fiancé of a
witch. The witch wanted to kill them, but she decided to just force them
to do the bidding of the owner of the magical Golden Cap. They have been
enchanted for generations. Glinda frees them after Dorothy gives her the
Golden Cap.
8. What is the setting? What ideas of moral
values does the setting suggest?
Answer :
·
Setting : Dorothy’s home (The
Kansas Prairies) it is dry and gray.
The land of Oz it is colorful, bright, and
full of joy.
·
Moral values :
1.
Things are not always as they seem. People always think the grass is
greener on the other side, and are always looking for happiness elsewhere. When
in reality happiness is where your family and loved ones are.
2.
It does teach us to believe in ourselves. Each of the lead already had what
they were looking for.
3.
There's
facing your fears. Dorothy stands up to Miss Gulch, The Lion when they first
meet, The Wizard, and finally, The Witch, however that might be better seen in
the novel.
9. What does the play tell about? What is the conflict of
the story?
Answer : The play tells about Mr.
Mercer who is sitting in the smoking compartment enjoyed his first trip to One
Hundred and Twenty Fifth street by train and he met a new friends-relationship
with Mr. Barclay the conductor of the car. The story is blurry, but I think the
conflict is Mr. Mercer forget where his card, maybe he lost it and then consult
to the conductor.
10. Where is the setting of the play? What does the title
mean as a part of the setting (stage directions)?
Answer : The setting takes place in a railroad train named
Pullman Car that is on his way to One Hundred and Twenty Fifth street, The Traveler
means to Mr. Mercer that is a passenger on his way who travelling One Hundred
and Twenty Fifth street.
Subscribe to:
Posts (Atom)
